Jumat, 06 Januari 2023

19.32 - No comments

Have You Ever Been in Love?

  


 Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Desember 2022 menjadi titik terendah dalam hidupku. Tiga tahun lamanya aku menjalani hubungan dengan wanita yang begitu sederhana, tidak pernah banyak tingkah, dan selalu bersamaku dalam setiap momen perkuliahan. Agustus 2019 menjadi awal mula perjalanan kami. Berbekal keberanian (dan juga keberuntungan) untuk mengajaknya bermain di kebun binatang yang mana bukan tempat yang lazim untuk dijadikan tempat kencan pertama. Aku bukannya tidak mau mengajaknya nonton film terbaru di bioskop ataupun cafehopping, namun menurutku first date adalah waktu untuk menyelam lebih dalam kepribadiannya lewat percakapan-percakapan yang terucap di sepanjang perjalanan. Hampir 2 jam kami berjalan menyusuri semua hewan di kebun binatang tersebut, 2 jam itu pula aku mulai bertanya pada diri sendiri "apa dia yang selama ini aku cari?".

    Semenjak pertemuan pertama tersebut, alur komunikasi dan pertemuan kita menjadi lebih intens. Namun aku tidak terburu-buru untuk menyatakan cinta padanya. Butuh waktu kurang lebih 3 bulan untuk meyakinkanku bahwa dialah wanita yang selama ini aku cari. Wanita yang tidak pernah mengeluh makanan murah atau mahal, bepergian naik kendaraan apa, dan sebagainya. Aku jatuh cinta pada kesederhanaannya, sesimpel itu. Tidak ada yang namanya pertengkaran selama 3 bulan pertama aku mengenal dia (atau ada satu kali ya ketika aku slow respon ketika sudah mengajaknya jalan). Namun bagiku 3 bulan tersebut menjadi awal yang sangat indah bagi masa perkuliahanku setelah itu.

    November 2019, aku telah yakin pada pilihanku. Tak ada keraguan sedikitpun terkait pilihanku saat itu. Flashback sedikit di masa aku baru putus dengan mantanku yang sebelumnya, aku pernah berdoa untuk mendapatkan wanita dengan sifat a,b,c,d dan ternyata kesemua sifat yang aku pernah minta kepada Tuhan ada di dia semua. Berbekal google forms dengan judul survey hati, dan dengan isi seperti ini:

Tak ada alasan yang pasti dan jelas kenapa aku cinta kamu, tapi yang pasti aku menginginkan aku bahagia denganmu dan tak ingin sampai kamu terluka.

Ketika aku bertemu denganmu, aku tak peduli dengan semuanya. Namun, ketika kamu pergi jauh dariku aku selalu mengharapkanmu. Dan apakah ini cinta?

Aku menyukai dirimu, karena dirimu begitu sederhana, tetapi kesederhanaan itu sangat istimewa di mataku. Hal itu kan bertambah sempurna jika kamu mau menjadi yang spesial di hatiku.

Malam ini sangat indah dengan cahaya rembulan yang memesona, namun akan lebih indah apabila kamu resmi menjadi milikku. 

    Sebuah malam yang indah untuk dikenang, awal dari perjalanan dan harapan kami kedepannya yang kini telah kandas. Tiga tahun kami selalu bersama disaat senang dan susah, tiga tahun yang menjadi pertanda dia-lah yang aku butuhkan. Ibarat mengikuti perlombaan marathon, aku tidak perlu menggunakan sepatu yang mewah dan mahal untuk menyelesaikan marathon tersebut, cukuplah dengan sepatu dengan ukuran yang pas dan nyaman digunakan agar bisa menyelesaikannya dengan baik. Namun, analogi tersebut seperti dimentahkan oleh keadaan, dimana kami pada akhirnya harus berpisah. Jika kamu membaca ini, tolong mengerti, aku sangat menyayangimu dan tidak pernah sedikitpun ingin membuatmu terluka. Terima kasih selama 3 tahun ini kamu selalu menjagaku dan menyemangatiku hingga akhirnya impian kita saat awal kuliah dikabulkan perlahan dikabulkan satu per satu oleh Tuhan.

7 billion smiles, and yours is my favorite

0 komentar:

Posting Komentar