Jumat, 11 Maret 2016

Berawal Dari Mimpi



Halo kawan, bagaimana kabar? Rindu rasanya mengingat masa lalu. Suka duka dilewati bersama yang akhirnya kita berpisah karena waktu. Dulu, dulu sekali saat aku pertama kali menginjakkan kaki di SMAN 2 Purwokerto, masih ingat dalam ingatanku, saat itu siang yang terik dan terlihat rumput Smada yang tampak menguning karena kering bulan Juni.

Hari itu, hari pertama PPDB sambil berjalan menuju trotoar depan Smada, terlihat dua anak berbincang dan salah satunya yang masih bocah dengan sesumbar mengatakan "Aku akan bermain untuk kelasku dan akan mencetak gol di Final SSL!". Mimpi itu berasal dari mulut seorang bocah, yang sangat termotivasi untuk masuk SMA yang sama dengan ibunya. Apakah mimpi itu terlalu besar? Tidak! Bocah itu menepati janjinya. Janji yang terucap dengan semangat yang membara. 1 tahun setelah janji itu, dia menepati janjinya. Dia bermain di final SSL tahun itu dan turut mencetak 2 gol yang akhirnya dimenangkan oleh kelasnya dengan skor 4-2.
Juara!
Satu tahun setelah peristiwa itu juga, bocah itu menepati janjinya untuk yang kedua kali. Final kedua bagi dia melawan musuh yang sama. Dalam pertandingan dia turut serta dalam membuat gol, tapi golnya hanya mampu membawa tim kelasnya bermain imbang 2-2 dalam waktu normal. Dan saat babak adu penalti keberuntungan tak berpihak pada dia dan tim kelasnya. Sang juara bertahan, yang tak pernah menerima hasil imbang maupun kalah selama kiprahnya di SSL harus kandas dalam perlawanan sengit yang membuat juara bertahan menerima kekalahan perdananya di partai final! Penyesalan hadir dalam semua anggota tim. Air mata berlinang pada mata pemain yang mengingat kesalahannya pada pertandingan tadi. Tapi tidak untuk bocah pemimpi itu. Dia tak menangis, hanya raut wajahnya yang menunjukkan rasa kecewa yang mendalam. Air matanya sudah habis sejak kemarin.

Air mata bocah itu habis karena lomba yang diikutinya satu hari sebelum pertandingan final. Perjuangan dia selama beberapa bulan untuk mengikuti lomba. Mimpi dia untuk mengharumkan nama Smada kandas. Memang air matanya tak menetes saat pengumuman, tapi setelah dia sampai di Smada, tempat mimpi itu dimulai air mata tak tertahankan lagi dan mulai keluar dari bola matanya. Teringat mimpi dia selama beberapa bulan terakhir, memberi yang terbaik untuk rumah kedua dia, tapi akhirnya gagal. Peringkat tiga tak cukup untuk membuat dia tersenyum. Maka dari itu saat dia mencetak gol pada final satu hari setelahnya dia memberi selebrasi yang tak terlupakan untuk semua kawannya yang menangis pada hari sebelumnya. Penghormatan terakhir untuk mimpinya yang kandas dalam dua hari berturut-turut.
Setelah melakukan selebrasi medapat pelukan
Satu hal untuk diingat, untuk dimengerti. Bahwa tak peduli kau juara berapa, tak peduli kau kalah atau menang, ingatlah satu hal, rencana Tuhan itu lebih indah. Banyak hikmah dari setiap kejadian, jangan salahkan siapapun untuk kegagalanmu, karena semua manusia tak ada yang sempurna, selalu ada salah. Karena yang bernilai dalam hidup ini adalah proses, bukan pada hasil. Teringat juga sebuah satu dua buah kata dari film kartun:
"Mobil balap tua yang suka ngomel pernah bilang padaku: "Itu hanyalah piala kosong!"" -Lightning McQueen 
Tetap jaga kebersamaan ini kawan!

Nb: Mohon maaf jika barangkali tulisan saya menyinggung pembaca. Sekali lagi maaf.